Pages

08/01/13

CERPEN


CINTA VS PERSAHABATAN

Kelas telah selesai dan aku bergegas menuju kantin untuk makan siang bersama dengan teman-teman baikku.
“Sis makan siang  bareng yuk di kantin belakang kampus?” ajakku kepada Sisca yang masih sibuk menyalin catatan dari dosen.
“Iya Airi nanti saja aku menyusul, tanggung tinggal sedikit lagi nih.” jawab Sisca sambil terus mencatat.
“Oke kalau begitu kita jalan duluan ya.”
Setibanya di kantin, aku bersama teman-teman yang lain duduk di tempat favorit mereka. Sambil menunggu pesanan makanan mereka datang, mereka berbincang-bincang  dan bercanda. Tak lama kemudian Sisca pun datang.
“Hallo, maaf ya lama. Tadi aku bertemu teman lama jadi ngobrol dulu deh. Hehehehe.” Sisca datang dengan tingkahnya yang heboh.
“Ya sudah Sis kamu mau pesan apa? Kami semua sudah memesan makanan.”
“Pacar kamu mana Ai? Tumben kalian pisah. Biasanya juga kemana-kemana selalu berdua.” tanya Sisca sambil melihat daftar menu.
“Paling juga lagi berantem.”, cetus Rizal yang saat itu juga makan siang bersama kami.
“Nggak tuh. Cuma lagi males berdua aja. Hehehe.” akupun menjawab sambil tersenyum, namun dalam hatiku tidak menyangkal perkataan Rizal bahwa aku dan pacarku memang sedang ada masalah.
“Ah bohong ah, keliatan tuh. Dari masih di kelas kalian nggak saling tegor.” Rizal masih terus menggodaku.
“Ih apasih zal.” sangkalku, ”Sis kamu masih suka smsan sama Fadil?” tanyaku kepada Sisca untuk mengalihkan pembicaraan.
“Sudah nggak lagi Ai, kan dia sekarang sudah ada yang punya. Ya walau belum resmi juga sih.”
“Ah kamu cemburu ya? Hayo ngaku aja Sis aku tau kok. Keliatan lagi. Hahahaha.” aku mencoba menggoda Sisca yang saat itu sudah nampak sangat kelaparan.
“Apaan sih Airi. Sudah nggak usah dibahas lagi deh. Toh udah jadi punya orang ini.” Sisca mencoba menyangkal.
“Hoy ke kantin nggak ngajak-ngajak nih.  Aku cariin juga tadi.”, tiba-tiba Bobby datang dan langsung duduk di sampingku. “Sayaaaaaang.”, panggil Bobby kepadaku sambil mencubit gemas pipiku. Ya, Bobby memang sangat konyol, dia sering sekali mencubitku karna gemas, dialah pacarku.
“Ih sakit tau. Ngapain kesini? Malesin banget deh.” cetusku dengan muka cemberut.
“Kamu jangan kaya gitu dong sayang. Hehehe. Makanya kamu jangan bikin aku bete, kan aku jadi kesel. Kita baikan ya?”, Bobby mencoba merayuku agar tidak ngambek lagi.
“Hmmmm.”, jawabku dengan singkat. “Sis aku mau tanya, sebenarnya waktu kamu masih dekat dengan Fadil kamu ada perasaan nggak sih ke dia?”, aku melanjutkan obrolanku dengan Sisca yang tadi terpotong oleh Bobby.
“Wah yang kaya gini yang harus didengerin baik-baik, iya gak By?”, celetus Rizal
“Asli, ini mah langsung tembak pada sasaran banget ini Zal.”, jawab Bobby sambil melirik ke arah Sisca.
“Uhuuuuk!”, Sisca tersedak, “Aduuuh apaan sih kok kalian gitu. Kan gak enak kalo ada yang denger. Nanti dikiranya aku mau ngerebut gebetan orang lagi.”
“Santai sii. Ada yang denger juga biarin aja, orang dia punya kuping ini pasti denger lah.”, Bobby mulai mengoceh dengan kata-katanya yang konyol.
“Jujur Sis, pokoknya jawab yang seeeeejujur jujurnya. Penasaran nih.”, aku mendesak Sisca untuk bicara.
“Gimana ya? Dibilang suka sih nggak. Cuma ada perasaan beda aja. Ya secara dia sms tiap hari, ngasih perhatian juga, dan bahasa smsnya itu berbeda sama kalau kalian sms aku.”, jawab Sisca dengan suara berbisik.
“Iyalah pasti ada perasaan. Siapa juga sih yang nggak luluh kalau diberi perhatian lebih. Tapi maaf, ternyata dia seperti itu tidak hanya sama kamu saja.”, celetus Lina yang tiba-tiba datang dari belakang. Ternyata dia daritadi menguping pembicaraan kami. Kamipun sentak terkejut dan terdiam sejenak.
“Eh Lin, sejak kapan ada disitu? Sendiri aja? Sudah makan siang? Ayo aku temani.”, Rizal mencoba mengalihkan pembicaraan. Rizal yang juga menyukai Lina hanya saja Lina lah orang yang sedang dekat dengan Fadil saat ini.
“Sudah lama aku disitu. Iya sendiri, niatnya sih mau makan siang cuma mendadak kenyang.”, jawab Lina yang bergegas pergi dari meja tempatku, Bobby, Sisca dan Rizal makan siang.
“Waduh bisa jadi konflik nih.”, ujar Bobby.
“Asli by, apalagi kalo Lina sampai menceritakan semuanya ke Fadil.”, jawab Rizal.
Semua berlalu dan masih nampak seperti biasanya. Sampai Fadil mulai bersikap tidak seperti biasanya kepada Sisca dan teman-temanku yang lainnya. Dia bersikap kaku seolah seperti orang yang tidak saling mengenal. Hingga Siscapun merasa kesal dan bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang terjadi.
Keesokan harinya di kampus, Lina berjalan ke arah Sisca sambil tersenyum dan berkata,”Fadil sudah tau semuanya.”
“Maksud kamu apa?”, tanya Sisca,”Lina kamu cerita apa sama Fadil.”, Sisca nampak sangat marah.
Lina hanya diam dan lantas pergi begitu saja, berkumpul bersama dengan teman-temannya dan mungkin saja sedang membicarakan Sisca. Sisca merasa kesal. Terlebih saat melihat perbincangan Lina dengan seorang temannya di salah satu media sosial yang seolah Sisca itu ingin merebut Fadil.
*CRING!* (smartphoneku berbunyi)
Sisca: “Ai lihat deh, mereka kok jahat sih sama aku? Aku kan nggak pernah jahat sama mereka.                 Menjelek-jelekan mereka saja aku nggak pernah. Tapi kenapa mereka seperti itu sama aku?”
Aku : “Sabar ya Sis. Kalian omongin aja bertiga dan selesaikan masalahnya baik-baik. Jangan sampai                        kita ada masalah ya.”
Sisca: “Iya nanti pasti. Aku juga nggak mau ada masalah di antara kita.”
Hari berganti dan masalah tersebut semakin meruncing. Sikap Lina dan teman-temannya semakin tidak biasa dan mencurigakan. Di depan kami, mereka bersikap biasa saja dan tetap dekat. Hanya saja di belakang kami, mereka seperti membicaraka dan menyindir Sisca secara halus. Sikap Lina dan teman-temannya telah membuat semua teman-temanku geram. Hanya karena tahu bahwa Sisca pernah mempunyai perasaan ke Fadil dan Rizal juga memiliki perasaan ke Lina, Fadil ngediemin semua teman-temanku.
Rizal menarik Fadil menjauh dari keramaian. Dengan nada santai Rizal berkata, “Kamu kenapa? Ada masalah sama aku? Ngomong aja.  Nggak usah diem kaya gitu. Nyolot tau nggak.”
Fadil hanya terdiam, menunduk dan menggelengkan kepalanya. Seperti orang bisu, dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Rizal.
“Ya elah ngomong aja kali, kalo nggak suka tuh bilang aja. Biar nggak jadi masalah. Kamu gak suka kalau aku juga suka sama Lina? Santai aja kali. Aku emang suka sama Lina tapi aku nggak sejahat itu kali, aku nggak akan rebut dia dari kamu. Jadi kamu nggak perlu khawatir sampai kamu bersikap kaya gitu.”, Rizal mencoba untuk memberi penjelasan kepada Fadil dengan nada tenang. Namun Fadil masih saja terdiam, seperti sama sekali tidak menghiraukan kata-kata Rizal.
Disisi lain ada Sisca yang mencoba menyelesaikan masalah dengan Lina. Sisca mengajak Lina untuk berbicara empat mata. Sisca mulai menjelaskan semuamya, “Lin aku emang bilang punya perasaan yang berbeda sama Fadil, tapi itu belum jadi suka. Dan itupun dulu sebelum aku tahu bahwa kamu juga sedang dekat dengan Fadil. Sekarang perasaan itu sudah tidak ada lagi jadi kamu tidak perlu khawatir sampai harus bersikap tidak seperti biasanya denganku dan teman-temanku.”
“Iya Sis, santai aja. Aku tau kok.”, jawab Lina dengan singkat.
Tak lama kemudian terdengar suara ribut. Sisca dan Lina pun bergegas menghampiri keributan tersebut. Ternyata disitu Fadil dan Rizal sedang berkelahi. Tidak ada satu orangpun yang mencoba untuk melerai. Karena mereka sudah cukup kesal dengan sikap Fadil. Lina memeluk Fadil yang terjatuh karena pukulan Rizal. “Sudah Rizal cukup! Kenapa sih nggak ada satu orangpun yang melerai.”
“Heh Lin, Fadil itu sudah cukup kurang ajar ya. Apa coba maksud sikapnya. Aku sudah menjelaskan semuanya cuma tanggepan dia apa? Dia hanya diam, seperti tidak menghargai aku. Mereke semua menyaksikan sendiri tadi. Makanya tidak ada satupun yang mencoba untuk melerai karena sikap Fadil itu benar-benar nyolotin.”, Rizal tampak sangat kesal, nafasnya tidak beraturan dan tangannya pun mengepal.
Lina hanya menangis dan Fadil pun masih terdiam. Namun tak lama kemudian Fadil berbicara. “Jelas aku nggak suka kalau kamu diam-diam ternyata suka sama Lina, Lina kan posisnya sedang dekat denganku.”
“Dekat! Tapi belum jadi pacar kamu kan? Jadi hak aku kalau aku suka sama dia. Kalau kamu mau aku berhenti menyukai dia, nyatakan ke Lina kalau kamu sayang sama dia dan minta dia jadi pacar kamu sekarang juga.” , tegas Rizal. Fadil hanya terdiam. “Kenapa diam? Coba ngomong sekarang ke Lina kalau kamu sayang sama dia.”
“Maaf aku belum bisa.”, jawab Fadil dengan kepala tertunduk.
Lina terkaget dan bertanya,”Kenapa Dil? Bukannya kita sudah dekat sekali, bahkan bisa dibilang hampir seperti orang pacaran. Pasti semua karena Rizal dan Sisca kan?”
“Bukan karena itu Lin. Hanya saja aku sudah mencoba untuk sayang sama kamu tetapi tidak bisa. Aku masih belum bisa melupakan mantan pacarku, aku masih sayang dia.”, jelas Fadil sampil menggengganm tangan Lina dan menatap mata Lina yang berlinangan air mata.
Lina melepas genggaman tangan Fadil dan pergi memeluk Sisca,”Sis maafin aku ya, aku sudah jahat sama kamu. Ternyata Fadil tidak pernah sayang sama aku.”, ucap Lina sambil berlinangann air mata.
“Iya Lina nggak apa-apa, kamu yang sabar ya.”, Sisca mencoba menenangkan.
“Asik berarti sekarang sudah tidak ada masalah lagi dong nih, jadi bisa main bareng lagi.”, candaku sambil merangkul Sisca dan Lina.
Rizal mendekat kemudian menggenggam tangan Lina lalu berkata, “Ya sudah Lin, kan masih ada aku yang sayang sama kamu. Aku siap kok jadi pacar kamu kalo kamu mau.”
“Ah itu mah mau kamu. Mencari kesempatan dalam kesempitan.”, cetus Bobby sambil menoyor kepala Rizal kemudia merangkulku. Sekarang mereka semua sudah berteman lagi seperti biasanya. Rizal masih mencoba untuk mendekati Lina, Fadil sudah mulai jarang masuk kuliah karena merasa diasingkan di kelas, dan Sisca pun sekarang berteman baik dengan Lina. Senang sekali kalau semua berakhir dengan baik-baik saja dan semua sudah berteman kembali.

0 komentar:

Posting Komentar